Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Membangun Rumah di Lahan Gembur atau Bekas Sawah

Membangun Rumah di Lahan Gembur atau Bekas Sawah

Lokasi terbaik untuk membangun rumah adalah di daerah yang tanahnya punya sifat keras dan kering sehingga pondasi yang dibangun bisa kuat dan tidak mudah mengalami pergeseran. Namun demikian adakalanya kita mendapat lokasi yang kurang menguntungkan karena tanah yang akan dibangung tersebut merupakan tanah yang punya sifat gembur atau merupakan lahan bekas persawahan.

Tanah yang gembur bisa menyebabkan pondasi tidak kuat menahan beban, sehingga mudah bergeser atau melesak masuk ke dalam tanah. Jika ini terjadi  akan menimbulkan beberapa efek diantaranya dinding tembok mudah retak. Ada juga lantai yang juga ikut melesak masuk. Bahkan jika tanah tersebut terlalu gembur, bangunan bisa menjadi miring atau roboh sewaktu-waktu. Selain merugikan kejadian ini juga bisa membahayakan keselamatan penghuninya.

Untuk mengatasi masalah ini salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mengukur kedalaman tanah yang lunak tersebut. Jika tidak begitu dalam, tanah tersebut bisa dikeruk atau diambil. Setelah itu lahan tersebut ditutup kembali dengan tanah lain yang punya sifat lebih keras.

Ratakan tanah tersebut dengan mesin perata dan pemadat tanah. Jika sudah selesai, rumah tidak bisa dibangun begitu saja, namun harus menunggu beberapa bulan agar tanah benar-benar mengeras. Karena biasanya meski telah diratakan dan dipadatkan dengan mesin, namun tanah masih bisa bergerak atau melesak ke dalam.

Jadi waktu yang dibutuhkan untuk mengeraskan atau memadatkan tanah ini bukan hanya dalam hitungan hari atau minggu, namun hingga berbulan-bulan. Tujuannya adalah untuk mengetahui jika tanah tersebut belum keras bisa dikasih timbunan lagi. Selain itu pemadatan tanah menggunakan proses alami juga menguntungkan karena daya tahannya bisa kuat meski tidak dapat merata sekaligus.

Meski telah dilakukan pemadatan, bukan berarti tanah seperti ini bisa dibuat bangunan rumah begitu saja. Agar tetap kuat, sebaiknya pondasi yang digunakan adalah dengan menggunakan pondasi tiang pancang. Jika pondasinya menggunakan batu kali, biasanya tidak terlalu kuat menahan beban . Apalagi jika rumah tersebut menggunakan sistem dua lantai atau lebih.

Yang perlu diperhitungkan ketika memasang tiang pancang ini adalah menimbulkan getaran serta suara yang bising. Ada baiknya sebelum proses pemasangan tiang pancang dilakukan, perlu adanya komunikasi dengan warga yang tinggal di daerah tersebut.

Apalagi jika daerah tersebut juga sudah terdapat bangunan rumah yang lain. Getaran yang keras bisa menyebabkan retak dinding pada rumah tersebut. Karena konsep pemasangan tiang pancang ini memang lebih cocok digunakan untuk pemukiman baru yang jumlah bangunan rumah atau penduduknya masih sedikit.

Selain menggunakan konsep tiang pancang, cara lain yang bisa digunakan adalah dengan sistem bored pile. Sistem ini lebih mudah diterapkan meski rumah yang dibangun berada di daerah pemukiman yang sudah padat.

Jika menggunakan tiang pancang, tiang tersebut langsung ditanam kedalam tanah menggunakan mesin. Namun jika menggunakan bored pile, maka tanah tersebut diberi lubang dengan cara dibor dengan ukuran kedalaman tertentu sesuai dengan kebutuhan. Setelah pengeboran selesai, barulah pondasi besi tulang yang sudah ditata dimasukan. Selanjutnya besi tulang ini diberi campuran beton, batu, semen dan pasir.

Cara pengeboran ini juga ada dua yaitu bor basah dan kering. Untuk bor basah, sistem seperti ini membutuhkan pelindung atau casing yang bisa menahan bagian lubang tanah yang dibor agar tidak longsor. Selain itu juga pompa penyedot air untuk membantu proses pengeboran agar bisa mencapai ukuran kedalaman yang telah ditentukan.

Sedangkan untuk bor kering, alat yang digunakan adalah bor biasa yang berbentuk spiral. Dengan menggunakan mesin pemutar bor, alat ini kemudian masuk ke dalam tanah. Adapun tenga mesinnya menggunak diesel. Sedangkan untuk penyangganya adalah tripot yang fungsinya untuk menurunkan atau menaikan bor spiral tersebut.
Setelah proses pengeringan tanah, pemasangan tiang pancang atau pengeboran dan pemasangan pondasi selesai dilakukan barulah proses pembangunan rumah bisa dilakukan.

 
Artikel Lainnya :
 Peran Arsitek dalam Membangun Watak Masyarakat Maksimalisasi Cahaya Rumah Split Level 
 Membuat Gudang Atau Tempat Penyimpanan Barang Tips Memilih Furniture dan Asesoris Rumah 
 Kelebihan dan Memilih Karpet Tangga Tips untuk Mengantisipasi Banjir di Rumah Rawan Banjir 
 Perkembangan Arsitektur yang Beragam di Kuta Bali Memilih Perusahaan Jasa Instalasi Listrik 
 Tips Menggunakan Batu Alam Untuk Membuat Dinding Rumah Tips Cara Membuat Walk in Closet di Rumah 
 Fungsi dan Cara Membuat Maket Bangunan Analisa Gejala Akustik pada Ruang Tertutup  
 Mengolah Ruang Keluarga Agar Lebih Fungsional dan Cantik Gaya Arsitektur Luar Biasa pada Rumah Kayu 
 Desain Pintu Rumah Tempat Tidur di Ruang Terbuka Bernuansa Bali 
 Membuat Green Wall Sendiri Untuk Rumah Rumah Pohon yang Fantastik 
 Menggunakan Tirai Untuk Penyekat Ruang Arsitektur Istana Paling Megah di Dunia 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2014 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker