Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Pengertian Arsitektur Gaya Neoklasik

Pengertian Arsitektur Gaya Neoklasik
Pada tahun 1750 atau sekitar pertengahan abad XVIII di Eropa muncul suatu gerakan arsitektur yang sering dinamakan dengan gaya neo klasik. Yang dimaksud dengan gaya neo klasik ini yaitu suatu gaya baru yang dimunculkan dengan alasan timbulnya rasa bosan dan jenuh terhadap gaya yang berkembang pada saat itu.

Mereka yang berkecimung di dunia arsitek bangunan ini kembali pada gaya lama yang berkiblat pada gaya yang bersumber dari negara Yunani. Jadi tujuan dari pemunculan arsitektur gaya neo klasik ini adalah untuk balik lagi pada era sebelum masa romantik. Sebagaimana yang diungkap Indhaee Gobel melalui blognya, gaya neo klasik ini adalah model anti rokoko yang bisa dijumpai di beberapa bangunan Eropa seperti Palladian di Inggris dan beberapa bangunan lain yang berada di Roma, Paris atau Berlin.

Menurut beberapa sumber, sistem gaya neo klasik ini mulai dikenalkan oleh seorang Gubenur Jendral yang bertugas di Hindia Belanda yaitu Herman Willen Daendels yang menjalankan tugas dari tahun 1808 hingga 18011. Tokoh ini merupakan mantan perwira yang menjadi bawahan dari Napoleon dari Perancis. Pada saat itu gerakan neo klasik juga muncul di negara Perancis namun lebih sering dinamakan dengan sebutan Empire Style.

Sehingga ketika datang untuk menjalankan tugasnya di Indonesia, bangunan yang sebelumnya memakai gaya indisch oleh Daendels langsung dirubah menjadi gaya Empire Style. Bangunan ini selanjutnya dinamakan dengan gaya Indische Empire Style. Alasan perubahan gaya ini adalah karena bangunan indische dianggap kurang mampu memunculkan sifat angkuh dan kuasa. Pada jaman itu gaya indische memang sering dipadukan dengan gaya lain yang menyesuakan dengan nilai budaya Jawa.

Menurut seorang ahli bangunan bersejarah Handinoto, ciri-ciri dari bangunan yang dibuat oleh Daendels tersebut antara lain adalah pertama pada penataan ruangnya. Bentuknya selalu simetris dan dinding atau temboknya dibuat dengan ukuran tebal. Lalu plafon atau langit-langitnya punya ukuran yang tinggi. Lantainya menggunakan bahan dari marmer.

Ruang yang ada di bagian tengah dinamakan dengan central room dan selalu berhungan secara langsung pada teras depan maupun belakang. Bangunan sayap yang berada di bagian sebelah kiri dan kanan digunakan sebagai ruang tidur. Sedang fasilitas lainnya dibuatkan bangunan sendiri secara terpisah.

Kemudian di halaman depan yang luas dilengkapi dengan jalan yang bentuknya melingkar. Jalan ini digunakan sebagai tempat untuk mobil atau kendaraan milik pengunjung atau penghuni yang ingin masuk dalam gedung tersebut. Jalan melingkar ini dihiasi dnegan aneka pohon hias.

Bagian depan bangunan serta yang ada di belakang menggunakan kolom yang menerapkan gaya Yunani seperti ionic, doric dan korintian. Kolom-kolom yang dibuat secara berderet ini berfungsi untuk menyangga konstruksi dan kerangka atap. Sedangkan di bagian fasadnya diberi pedimen berbentuk segitiga. Pedimen adalah hiasan fasad yang ada di bagian depan.

Ketika persediaan lahan yang luas sudah mulai sulit didapatkan, sistem aplikasi yang diterapkan oleh Daendels ini mengalami sedikit penyesuaian. Jalan yang bentuknya melingkar kadangkala ditiadakan. Sedangkan kolom yang bergaya Yunani diganti dengan ornament dari logam besi.

Sayang sekali meski bentuk dan tampilannya sangat bagus namun gaya arsitektur bangunan yang dikembangkan oleh Daendels punya beberapa titik kelemahan. Dia kurang memikirkan bahwa iklim tropis yang ada di negara Indonesia berbeda dengan kondisi alam Eropa. Sehingga apabila sedang musim panas, jendela yang terlalu besar membuat sinar matahari yang masuk ke dalam ruang terlalu banyak. Sementara saat hujan banyak air yang juga bisa menimbulkan masalah.

Beberapa bangunan peninggalan Daendels dan masih bisa disaksikan saat ini antara lain berada di Surabaya Jawa Timur yaitu Gedung Granadi dan Kantor Pos.

Sumber gambar : http://wisatasurabaya.50webs.com

 

Artikel Lainnya :