Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Management Penggunaan Alat Berat Bangunan

Management Penggunaan Alat Berat Bangunan

Pengerjaan proyek skala besar pada umumnya memakai alat berat. Pemakaian alat yang jenisnya ada bermacam-macam ini juga memerlukan sistem pengelolaan dan manajemen yang baik. Jadi tidak asal menggunakannya saja. Tujuannya adalah agar pola efisiensi waktu, tenaga serta teknik untuk merawat peralatan tersebut bisa berjalan dengan baik dan tidak terjadi pemborosan biaya yang sebenarnya tidak harus dikeluarkan.

Management penggunaan alat berat bangunan ini terbagi menjadi empat bagian besar. Yang pertama adalah pelaksanaan pekerjaan. Bagian ini meliputi peninjauan pada lokasi yang akan menjadi tempat berlangsungnya proyek dan inventarisasi pekerjaan.

Untuk peninjauan di lokasi, jenis pekerjaan yang dilakukan yaitu plotting atau gambar rencana dan data di lokasi pengerjaan proyek dan penelitian serta pengukuran. Selain itu masih ada lagi tes uji material dan bahan, uji dan pengecekan infrastruktur atau acces road serta disusul dengan penelitian khusus kondisi masyarakat sekitar terutama yang berkaitan dengan masalah sosial.

Sedangkan alokasi atau inventarisasi pekerjaan, yang perlu dilakukan adalah menghitung dan jenis kegiatan yang harus memakai alat berat dan volumenya sekaligus kondisi dan perhitungan jumlah tukang atau tenaga yang dibutuhkan. Lalu selanjutnya yaitu masalah perijinan, terutama yang berkaitan dengan pemakaian fasilitas infrastruktur.

Fasilitas operasional, jadwal kerja dan pembagian waktu serta sistem penanggulangan jika terjadi masalah sosial dan non teknis juga merupakan tugas dari inventarisasi pekerjaan. Demikian pula dengan penyusunan RAB atau Rencana Anggaran Biaya juga menjadi tugas bagian ini.

Management yang kedua adalah pemilihan jenis dan sistem penyediaan alat. Pemilihan jenis harus dilihat berdasarkan pertimbangan teknik dan ekonomis. Maksudnya dapat menyelesaikan tugas sesuai jadwal kerja dan tidak melenceng dari RAB. Adapun bahan yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan antara lain yaitu jenis pekerjaan yang menjadi dasar penentuan jenis alat serta kelengkapannya, material yang digunakan dan jumlah serta ukuran alat yang mau dipakai tersebut.

Khusus untuk ukuran, masih ada bahan pertimbangan lagi seperti kondisi medan, material dan jarak serta jumlah jumlah terbaik yang bisa dipakai secara maksimal. Juga tentang harga satuan serta kemungkinan melakukan kombinasi jenis alat. Sedangkan hal lain yang juga bisa menjadi bahan pertimbangan meliputi alat yang sudah menjadi milik sendiri dan yang beredar di pasaran serta alat lain yang harus dipesan secara khusus. Demikian pula dengan persediaan suku cadang dari masing-masing peralatan.

Untuk pengadaannya, sistem yang harus diperhatikan pertama yaitu asal peralatan seperti dari lokasi lain yang dipindah, peminjaman, menyewa atau beli sendiri baik yang baru maupun bekas atau dimodifikasi. Kedua adalah sumber pendanaan bisa berasal dari pembiayaan sendiri atau sistem pinjam dari bank dan dialokasikan pada biaya pendukung.

Management ketiga adalah teknik pelaksanaan dan penggunaan alat. Teknik ini ada bermacam-macam juga. Misalnya alat tersebut dikerjakan oleh pemiliknya sendiri. Namun oleh pemiliknya bisa dilimpahkan pada kontraktor lain. Dari kontraktor ini juga bisa dikerjakan sendiri tapi masih bisa dilempar lagi ada sub kontraktor.

Sedangkan personil atau pihak yang menggunakan alat bisa dibawah kepemimpinan manager khusus atau bisa dibawah kendali supervisor konstruksi sipil yang punya tugas mengawasi segala macam jenis pekerjaan sipil dan sistem operasional alat berat. Atau bisa juga tugas ini berada di bawah pengawasan bagian pengendalian mekanik yang punya tugas mengendalikan pemakaian alat berat serta pemeliharaan dan sistem adminitrasinya.

Management terakhir atau nomor empat adalah analisa dan perhitungan RAB. Komponen yang dijadikan sebagai dasar perhitungan RAB meliputi volume pekerjaan, daya dan kapasitas yang dimiliki alat berat ketika digunakan bekerja dan HSP atau Harga Satuan Pekerjaan. HSP ini bisa dihitung dari biaya untuk produksi setiap satu jenis dan unit alat baik biaya langsung dan yang tidak langsung serta profit dan pajak.

Sumber gambar : http://www.machinery-trader.ca

 

 
Artikel Lainnya :
 Cara Membuat Desain Dinding dari Bambu Bagaimana Mengecek Kualitas Bangunan Sebelum Membeli Rumah 
 Teknik Merawat Lantai Kayu Arsitektur sebagai Profesi dan suatu Bidang Seni 
 Kelebihan dan Cara Membuat Pagar Kaca Perbedaan Teknik Penggunaan Kuas dan Rol Untuk Mengecat Dinding 
 Merawat Dinding Berdasarkan Jenisnya Desain Gazebo Paling keren 
 Membuat dan Memasang Papan Pengecoran Pada Tiang Beton Tips Tentang Cara Membuat Gazebo pada Hunian Rumah 
 Rumah Kereta Kuda Membuat Gudang Atau Tempat Penyimpanan Barang 
 Teras Terbuka di Atas Bukit Tips Cara Membangun Rumah Kayu Yang Ideal 
 Keindahan Bali dengan Arsitektur Tradisional Bali Memadukan Nuansa Ceria dan Sejuk di Kolam Renang Bertingkat di Bali 
 Landscape Rumah Kampung Bali Dengan Tampilan yang Sangat Alami Mengenal Jenis Retakan Pada Dinding dan Cara Mengatasinya 
 Mendirikan Bangunan Tanpa Bekisting Tujuan Menjaga Jarak Bangunan 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2014 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker