Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Membuat Desain Fasad Bernuansa Etnik Jawa

Membuat Desain Fasad Bernuansa Etnik Jawa

Rumah tradisional Jawa pada umumnya hanya terdiri dari satu lantai saja. Apalagi jika rumah tersebut menggunakan model joglo yang pada bagian depannya berupa ruang yang bersifat lebih terbuka dan sering digunakan sebagai serambi atau teras. Jadi bisa dikatakan jika rumah adat Jawa lebih sering tidak menggunakan fasad.

Lalu bagaimana jika kita membuat bangunan dengan bentuk yang lebih modern dan terdiri dari dua lantai namun tetap ingin menghadirkan nuansa tradisional Jawa yang lebih kental, terutama pada bagian fasad atau dinding muka?. Untuk mengatasi masalah seperti ini sebenarnya bukan merupakan hal yang begitu sulit dilakukan.

Membuat desain fasad bernuansa etnik Jawa bisa dikerjakan melalui beberapa cara maupun aplikasi. Salah satu contohnya bisa dilihat dalam gambar. Bangunan rumah ini juga memakai konsep dua lantai dan tidak menerapkan model Joglo seperti bangunan rumah adat Jawa pada umumnya. Dan meski tampak lebih modern dan memunculkan kesan masa kini, namun nuansa etnik Jawa tetap bisa dihadirkan pada bagian fasad.

Hampir semua bagian dinding di rumah ini tidak diberi lapisan penutup atau aci, namun lebih menonjolkan susunan batu bata yang bisa menghadirkan kesan yang sangat alami. Pada bagian tertentu terutama yang ada di pinggir atau pojok, susunan batu bata ini membentuk ornament dengan ukuran yang lebih tebal dibanding bagian yang lain. Dan bukan itu saja, ornament atau hiasan ini juga tidak berbentuk lurus begitu saja, namun punya tampilan seperti gerigi yang ditata secara selang-seling menggunakan ukuran bata yang pendek dan panjang.

Sedangkan nuansa etnik Jawa yang paling kental muncul dari desain jendela yang dipasang pada bagian dinding atas dan bawah. Jendela ini menggunakan gaya tradisional dimana teralisnya memakai bahan dari kayu bundar yang ukurannya kecil-kecil seperti tongkat dan disusun berjajar secara vertikal.

Jendela Jawa ini juga dilengkapi dengan ornament yang terletak pada bagian atasnya. Ornament ini berupa ukiran dua dimensi yang dipasang secara menyatu dengan kusen jendela di bagian atas. Penggunaan ornament ukiran ini juga diaplikasikan pada pintu yang berada di teras.

Lalu untuk jendela yang ada di dinding bawah diletakan pada bagian pinggir atau depan pintu masuk, kemudian jendela yang ada di lantai atas diposisikan pada bagian tengah sisi pinggir kiri. Yang cukup unik adalah selain ornament ukiran dan teralis, jendela ini juga diberi garis dinding tebal pada bagian pinggirnya.

Selain jendela, nuansa khas tradisional Jawa juga dimunculkan pada ornament yang diletakan di bawah susunan atap depan. Bentuknya berupa papan kayu yang dibuat menjadi hiasan dengan motif lancip-lancip pada bagian bawah dan terdapat lubang-lubang kecil di antara bagian lancip yang satu dengan bagian lancip yang lain.

Penggunaan ornament kayu ini selain diaplikasikan pada atap yang ada di lantai satu maupun dia, juga menjadi hiasan pada atap yang difungsikan sebagai teritis pada jendela yang ada di lantai atas. Fungsi dari teritis adalah untuk menahan curah air hujan yang turun agar tidak bisa masuk ke dalam ruang meski terkena hembusan angin yang cukup besar.

Kemudian untuk penahan atap-atap tersebut dipakai konstruksi dari kayu yang disusun dengan konsep tradisional Jawa juga. Namun penggunaan kayu ini hanya diaplikasikan pada atap teritis pada jendela di lantai atas saja. Atap yang lain meski menggunakan desain yang sama namun bahanya menggunakan tulang besi yang ditutup dengan cor beton. Tujuannya adalah agar bisa lebih kuat menahan beban.

Selain etnik Jawa, nuansa Eropa juga dihadirkan pada dinding yang ada di bagian tengah lantai dua. Beberapa jendela yang ada di tempat ini menggunakan gaya Eropa. Hal ini terlihat secara nyata pada bagian atas yang membentuk lengkungan. Dan tidak itu saja, kaca yang digunakan juga diberi hiasan lukisan air brush yang motifnya memunculkan karakter Eropa yang lebih kuat. Namun bagaimanapun juga nuansa etnik Jawa tetap terasa sebagai yang dominan.

Sumber gambar : http://interiorexteriordesign.blogspot.com

 

 

 

 

 
Artikel Lainnya :
 Menikmati Keindahan Desain Jembatan Ampera di Palembang Benarkah Profesi Arsitek Belum di Apresiasi di Indonesia? 
 Kenapa Harus Membuat Gambar Kerja pada Pembangunan Rumah? Perbedaan Model Lampu Outdoor dan Indor 
 Penggunaan Batu Alam Sintetis Pada Bangunan Merawat dan Memilih Pegangan Pintu 
 Mengurangi Dampak Negatif Asbes Menggunakan Kayu Utuh atau Glondong Untuk Dinding 
 Sejarah Desain Rumah Minimalis Memilih Atap Baja Ringan dan Cara Memasangnya 
 Mengenal Sejarah Arsitektur Belanda di Indonesia Rumah Panggung Berdinding Kaca 
 Tips Membeli Tanah dan Rumah Warisan Interior Ruang Upacara di Istana Merdeka 
 Mengatur Sistem Pencahayaan dan Interior Ruang Televisi Aplikasi Desain Minimalis Rumah pada Arsitektur Bali 
 Rumah Berbentuk Huruf ‘V’ Terbalik Hindari Pemukiman Padat Dan Area Berbahaya Untuk Perumahan 
 Tips Mengatur Pencahayaan Lampu Rumah Teknik Menggunakan Batu Bata untuk Memperindah Ruang 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2014 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker