Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Menelusuri Perkembangan jenis dan Bentuk Ragam Hias Bali

Menelusuri Perkembangan jenis dan Bentuk Ragam Hias Bali

Arsitektur secara umum tidak bisa dimasukkan kedalam kelompok senirupa meskipun juga menampilkan keindahan bentuk. Hal ini dikarenakan didalamnya terdapat pakem-pakem teknis dan rasa ruang yang sama berat timbangannya dengan seni menata wajah. Fungsi arsitektur untuk berbagai kegiatan dan berbagai pemakai akan melahirkan bentuk dan wajah yang berbeda pula sehingga dapat dikatakan bahwa arsitektur adalah hasil olahan berbagai kepentingan (seni, teknis dan rasa).

Seperti dikemukakan oleh Ir. Wiranto, MS. Arc. bahwa arsitektur harus mampu menjawab perkembangan yang terjadi antara interaksi manusia dan masyarakat dengan penataan ruang, norma/kaidah serta perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan tersebut berdampak pula pada pergeseran nilai, daya hidup, kondisi sosial-ekonomi dan modernitas yang akhirnya membawa dampak pada perkembangan tuntutan masyarakat akan ekspresi arsitektur yang kreatif. (Ir. Wiranto, MS. Arc., 1997: 54)

Tradisi dapat diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat yang merupakan kesadaran kolektif dengan sifatnya yang luas, meliputi segala aspek dalam kehidupan. Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada rontal Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para Undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud.

Wujud fisik bangunan-bangunan di sebuah kota dengan identitas kota sangat berkaitan. Karena itulah, pemeliharaan terhadap bangunan-bangunan lama/kuno dalam sebuah kota terutama di negara-negara maju menjadi perhatian serius. Bahkan, ada petuah yang menyebutkan bahwa "kota tanpa bangunan kuno adalah kota tanpa ingatan. Sama dengan manusia yang tanpa ingatan bisa dikatakan “gila”, maka kota tanpa bangunan kuno adalah kota yang “gila”.

Arsitektur Bali sudah teruji dan dikagumi pihak luar negeri. Kekaguman tersebut bisa dilihat dari perhatian yang besar arsitek di kota-kota seperti Singapura, Tokyo, Bangkok dan Hongkong terhadap arsitektur Bali yang dimuat dalam sebuah buku terbitan Gadjah Mada Press berjudul "Architectural Conservation in Bali". Beberapa bangunan di Badung dan Denpasar tidak memperlihatkan arsitektur tradisional Bali. Bangunan-bangunan seperti pusat perbelanjaan megah di kawasan Kuta, misalnya, lebih banyak menampilkan kesan internasionalisme, terutama pada penggunaan elemen dekorasinya yang tidak menampilkan bentuk ragam hias lokal yang mempu mencirikan genius loci.

Menurut Ir. I Putu Rumawan Salain, M.Si., saat ini arsitektur bangunan di Bali memang sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat ditinjau dari tiga unsur yakni bentuk, fungsi dan makna. "Dari bentuk sulit mengatakan kalau bangunan di Bali masih menggunakan arsitektur tradisional Bali. Demikian juga halnya dari segi fungsi," tegas Ir. Rumawan dosen Fakultas Teknik Unud ini. Fenomena masyarakat yang mulai meninggalkan arsitektur Bali dapat dilihat pada rumah-rumah hunian yang lebih laku di pasaran adalah hunian yang menggunakan arsitektur modern. Begitu pula dengan penggunaaan ragam hias, elemen dekorasi ini sudah banyak dipengaruhi oleh moderenisasi dan fabrikasi yang mengutamakan kepraktisan dan fungsionalisme. Wujud seni dan budaya lokal dalam desain bangunan yang menjadi identitas Bali sudah semakin sulit ditemukan. Konsumen saat ini lebih memilih bentuk rumah yang bisa menunjukkan kemampuan mereka secara ekonomis.

Rumah dengan arsitektur tradisional Bali dianggap tidak bisa mewakili kemampuan sang pemilik, sehingga tidak begitu diminati. Keinginan konsumen inilah yang kemudian banyak mendorong para arsitek lokal berkreasi yang terkadang meninggalkan nilai-nilai tradisional. Namun, tidak hanya dalam bangunan rumah pribadi yang meninggalkan arsitektur Bali. Bangunan milik publik secara perlahan sudah mulai mengikuti pola dan bentuk-bentuk arsitektur modern.

Dalam perkembangannya, ragam hias Bali mulai lebih fleksibel dalam beradaptasi dengan pesatnya kemajuan teknologi dan industri saat ini. Beragam bentuk ornamen bangunan sudah mengalami akulturasi dan penyesuaian dengan gaya arsitektural yang sedang menjadi “trend center” saat ini. Keaslian ragam hias Bali sudah jarang digunakan terutama pada bangunan-bangunan fasilitas umum. Seolah-olah, setiap bangunan ingin mengkomunikasikan aliran arsitekturalnya masing-masing namun tetap ingin menunjukkan identitas lokalnya.

Hal inilah yang banyak melahirkan ragam hias sebagai tempelan pelengkap semata pada desain bangunan moderen. Fenomena tersebut sangat disayangkan karena terjadi pada Bali yang merupakan pusat pariwisata yang mempunyai beragam seni-budaya yang khas. Lambat laun, Bali akan kehilangan identitas lokalnya dan terasing di daerah sendiri karena sangat rentan dipengaruhi oleh budaya luar yang masuk ke Bali. Sedangkan, langgam arsitektural Bali terutama untuk ragam hiasnya menjadi inspirasi pada bangunan-bangunan masyarakat di luar Bali terutama di luar negeri. Ragam hias Bali yang kaya akan bentuk memberikan suatu keindahan tersendiri yang tak ada habisnya untuk dieksplorasi.

Penggunaan elemen dekorasi pada bangunan moderen menunjukkan cita rasa seni tersendiri. Masyarakat akan mengalami kebosanan dengan bentuk-bentuk yang polos dan monoton. Oleh karena itu, ragam hias Bali yang kaya bentuk-bentuk imajinatif dan komunikatif dapat memberikan kebebasab berasosiasi dan berasumsi yang mengusik perhatian.

Masyarakat Bali patut bangga dengan kekayaan seni budaya ini. Jenis-jenis ragam hias arsitektur Bali sangat beragam bentuknya. Diantaranya dapat dikelompokkan menjadi:
1. Ragam hias dengan pola alam, umumnya berupa bentuk-bentuk tumbuhan, hewan dan bentuk alam (gunung, hutan, bebatuan dan lain-lain).
2. Ragam hias dengan pola Dewa-Dewi ataupun kisah pewayangan yang diambil dari lontar-lontar suci.
3. Ragam hias dengan pola manusia yang disitir.
4. Ragam hias yang dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan luar, misalnya dari Cina, Islam dan lain-lain.
5. Ragam hias berupa ekspresi dan kreasi imajinasi yang melahirkan bentuk-bentuk yang sarat dengan pola pendekatan misalnya pendekatan religius, budaya ataupun seni.

Dalam perkembangannya, ragam hias mengalami adaptasi, akulturasi ataupun fabrikasi sehingga terwujud bentuk-bentuk baru yang dapat berupa bentuk yang makin sederhana atupun makin rumit.

 
Artikel Lainnya :
 Jenis Struktur Basement Pengertian Bangunan Hijau dalam Arsitektur Indonesia 
 Memilih Perusahaan Jasa Instalasi Listrik Ide Menarik Memperindah Gazebo Dengan Roda Kereta 
 Rumah Panggung Berdinding Kaca Rumah Villa Bernuansa Sejuk di Bogor Jawa Barat 
 Teknik Baru Pembuatan Wall Covering Keramik dan Kelebihannya Konsep Arsitektur Bangunan Hotel yang Mempesona 
  Meningkatkan Nilai Jual Kamar Hotel dengan Lantai Terrazzo (Teraso) Rumah Nyaman Tidak Harus Mahal 
 Keindahan Istana Maimun Medan Mempercantik Ruang Dengan Warna 
 Ide Menarik Membuat Kursi Sofa dari Bathub Bekas Mempercantik Tampilan Ruang Dengan Pixel 
 Cara Menggunakan Rak Buku Untuk Partisi Desain Tugu Kota di Kuala Kapuas Kalimantan 
 Kesan Ceria di Rumah Mungil Manfaatkan Perkembangan Teknologi Bahan Untuk Rumah Terbaik Anda 
 Memunculkan Karakter Etnik Bali di Teras Investasi di Bali, Membeli Tanah atau Mengontrak Tanah? 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2014 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker