Arsitektur selalu mengalami perkembangan. Perkembangan itu bisa
berakibat positif dan juga negatif. Hal positif yang dapat dilihat dan
dirasakan adalah bahwa Arsitektur semakin membuat suatu kenyamanan yang
berkualitas bagi kehidupan manusia. Sehingga manusia menjadi merasa
keenakan tanpa menyadari adanya efek negatif yang mungkin ditimbulkan
dari pencapaian kenyamanan yang optimal itu. Jika tidak disertai dengan
pemikiran yang sesuai dengan akal yang sehat tentunya kemajuan
Arsitektur justru akan dapat merusak corak alam sekitarnya.
Dari tahun ke tahun sudah tentu arsitektur mengalami perubahan yang
lebih baik. Namun perubahan itu seharusnya dapat menyesuaikan dengan
keadaan alam. Jangan sampai justru Arsitektur itu akan merusak wajah
bumi yang kita pijaki ini. Untuk itulah, konsep-konsep berwawasan
lingkungan selalu dijadikan pedoman dalam pengaplikasian ke dalam proses
perencanaan suatu kawasan.
Menyingkapi perkembangan kawasan di Bali Selatan terutama di bagian
perbukitan kapurnya, kini sudah banyak mengalami perubahan. Dimulai dari
banyaknya kawasan yang dikapling menjadi perumahan-perumahan, villa
hingga bangunan yang menjulang cukup tinggi. Bisa dibandingkan dengan 15
tahun yang lalu ketika kawasan bukit Ungasan hanyalah perbukitan kapur
yang gersang, panas dan hanya segelintir orang yang bersedia tinggal di
daerah ini. Namun sekarang, kawasan ini semakin berkembang pesat.
Banyak perubahan yang berdampak pada alam dan lingkungan di Bukit
Ungasan. Dimulai dari keadaan air tanah yang nantinya akan berkurang
sebab tebing-tebing yang dulunya mampu menyimpan air tanah sekarang
hampir habis dikeruk tanahnya dan diperjualbelikan. Dengan demikian
ruang kosong sebagai peresapan air hujan menjadi tidak ada sehingga
kandungan air dalam tanah akan menyusut.
Kemudian tingkat kesuburan tanah akan berkurang disebabkan tidak adanya
pepohonan dan padang rumput yang bisa memproduksi kompos. Kesemua areal
akan tertutupi dengan material-material yang berhubungan pada
pembangunan wadah aktivitas. Kontur tanah pada sisi timur dan selatan
yang tadinya miring membentuk tebing akan menjadi datar karena
dimanfaatkan menjadi wadah aktivitas. Keadaan udara akan menjadi panas
karena ruang hijau berkurang akibat tebing-tebing tanah yang dulunya
banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang kini telah lenyap.
Untuk mengatasi hal tersebut tentunya harus ada pengontrolan dari
pihak-pihak yang berwenang mengenai pengerukan tebing. Dan harus ada
suatu kesepakatan untuk tidak menambah lagi terjadinya
pengerukan-pengerukan yang lainnya. Aliran air perlu mendapat perhatian
vital terutama di kala musim penghujan. Karena wilayah bukit Ungasan
yang terjal akan menjadi bagian hilir yang dapat mengalirkan rembesan
air hujan ke lereng bukit.
Meski demikian, kawasan bukit Ungasan memberikan keindahan dan daya
tarik tersendiri sebagai hunian tinggal. Apalagi bagi yang sudah
berkeluarga dan bekerja di industri pariwisata di daerah Nusa Dua,
ataupun mahasiswa yang tengah menempuh perkuliahan, maka memiliki hunian
di salah satu perumahan di Bukit Ungasan adalah pilihan yang terbaik.
Lantas, apa yang bisa Anda perbuat apabila menempati di hunian di bukit
Ungasan? Tentunya dapat dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar tempat
tinggal Anda terlebih dahulu.
Ada baiknya Anda menyisihkan 30 - 35% lahan untuk dijadikan kawasan
hijau. Anda dapat membuat taman dan menjadikan
hunian Anda lebih asri
mengingat suhu yang cukup ekstrim di daerah Ungasan tersebut. Maka
tumbuh-tumbuhan hijau dapat menjadi solusi untuk menyerap sinar cahaya
yang memantul dari batu-batu kapur sekaligus dapat mengembalikan
struktur tanah kapur agar tidak keropos dan tergerus. Perhatikan pula
sistem drainase di rumah Anda, jangan biarkan tersumbat karena apabila
musim penghujan tiba dan air dari selokan meluap maka tumpahan air dapat
menyebabkan irtanya butiran batu-batu kapur yang dapat menyebabkan longsor.