Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Cara Mengurus Sertifikat Tanah Wakaf

Cara Mengurus Sertifikat Tanah Wakaf

Yang dimaksud dengan wakaf adalah suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai wakif. Tindakan tersebut berupa penyerahan harta miliknya dengn tujuan untuk digunakan oleh suatu kepentingan yang sifatnya sosial dan umum. Sedangkan orang atau pihak yang menerima wakaf disebut nadzir.

Harta benda ini bisa berupa apa saja termasuk tanah. Pada umumnya tanah ini kemudian dipakai untuk membuat bangunan. Yang paling sering terjadi adalah untuk tempat beribadah khususnya masjid. Meski demikian sebenarnya tanah wakaf ini juga dapat difungsikan untuk kepentingan lain seperti mendirikan sekolah, pasar, rumah yatim piatu, rumah sakit dan sebagainya.

Di Indonesia, tanah wakaf banyak ditemukan. Tapi sayangnya kebanyakan dari tanah wakaf ini belum dilengkapi dengan sertifikat yang resmi. Kondisi ini kadangkala bisa menimbulkan resiko terjadinya konflik terutama dengan beberapa ahli waris dari wakif atau orang yang mewakafkan tanahnya tersebut. Jadi untuk menghindari hal-hal tersebut, tanah wakaf yang belum dibuatkan sertifikat sebaiknya segera diurus secepat mungkin.

Cara mengurus sertifikat tanah wakaf tidak begitu sulit. Menurut kantor kementrian agama, pihak yang wajib mengurus sertifikat tanah ini yaitu pihak penerima atau nadzir. Adapun tempat pengurusannya adalah Kantor Urusan Agama atau KUA setempat. Sedang penjabat yang punya hak atau wewenang mengeluarkan dan menerbitkan sertifikat tanah wakaf adalah PPAIW atau pejabat Pembuat Akta Tanah Ikrar.

Apabila sudah jadi atau terbit maka sertifikat tanah wakaf ini bisa dijadikan sebagai bukti bahwa lahan tersebut memang benar-benar sudah diwakafkan oleh wakif. Sehingga apabila di kemudian ada tuntutan hukum atau masalah lainnya, nafids punya bukti yang lebih kuat untuk mematahkan tuntutan tersebut.

Beberapa syarat yang harus dipenuhi saat mengurus sertifikat wakaf antara lain yaitu harus lebih dulu menyerahkan bukti atau sertifikat kepemilikan tanah atas lahan yang akan diwakafkan. Hal ini dilakukan oleh pemberi wakaf atau wakif. Jadi sertifikat tanah tersebut juga harus atas nama dari pihak wakif sendiri.

Sertifikat tanah ini dilampiri dengan surat pernyataan yang berisi jika lahan tersebut tidak sedang dalam urusan hukum atau sengketa dan tidak ada dalam penguasaan pihak lain. Contohnya yaitu menjadi agunan atau jaminan pinjaman bank dan lainnya. Surat pernyataan ini harus disahkan oleh lurah maupun pejabat pemerintah lain yang setingkat, kemudian diperkuat oleh tanda tangan camat.

Pendaftaran sertifikat khusus tanah wakaf ini dilakukan atas dasar akta pengucapan ikrar wakaf maupun penggantunya pada lahan yang sudak jadi hak milik kemudian dibalik nama menjadi tanah wakaf dan diatas namakan pihak penerima dalam hal ini nadzir. Tapi pada umunnya nama yang tercantum dalam sertifikat wakaf ini bukan merupakan nama perseorangan melainkan nama yayasan yang mengelola lahan wakaf tersebut.

Kemudian untuk tanah yang hanya sebagian saja yang mau diwakafkan, maka harus dipecah dan dibagi lebih dulu. Pemecahan ini dinamakan dengan sebutan splitzing. Baru setelah itu tanah bisa didaftarkan sebagai tanah wakaf.

Setelah jadi tanah wakaf, sertifikat tanahnya dilarang dipakai untuk mencari hutang atau jaminan kredit. Sebab jika kresit tersebut tidak terbayarkan tanah ini juga tidak bisa disita. Demikian pula jika mau dijual, diwariskan dan beberapa bentuk pengalihan hak lainnya, merupakan suatu hal yang tidak boleh dilakukan pada tanah wakaf.

Bahkan apabila fungsinya mau diganti, harus lebih dulu mendapat persetujuan dari Badan Wakaf Indonesia. Selain alih fungsi ini juga harus disesuaikan dengan RUTR atau Rencana Umum Tata Ruang Kota. Selanjutnya apabila mau ditukar gulingkan, nilainya harus sama dengan nilai jual tanah wakaf tersebut. Jadi tidak hanya berdasarkan kesamaan ukuran atau luasnya saja.

Sumber gambar : http://miftahuljannah-mosque.blogspot.com

 
Artikel Lainnya :
 Penggunaan Kayu untuk Memperbaiki Tampilan Rumah Memilih Kayu Untuk Atap Sirap dan Cara Pemasangannya 
 Jenis Biaya Untuk Transaksi Jual Beli Rumah Gunakan Jasa Arsitek Walaupun Rumah Kecil 
 Aplikasi Kain Gorden Pada Ruang Klasik dan Modern Mengapa Harus Memilih Kontraktor dan Bukan Pemborong? 
 Membuat Lubang Pada Dinding Keramik Mengenal Jenis-jenis Plafon 
 Perkembangan Arsitektur yang Beragam di Kuta Bali Green Arsitektur dengan Rumah Bambu 
 Kelebihan Shower Screen Dan Teknik Memilihnya Ide Menarik Membuat Hiasan Pengaman Stop Kontak 
 Ide Menarik Membuat Pagar dari Botol Bekas Tips Desain Rumah Bambu 
 Landscape Komplek Villa di Tepi Pantai Pulau Bali Mengapa Desain Arsitek Kebanyakan “Biasa-Biasa” Saja? 
 Menghadirkan Nuansa Biru Laut pada Rumah Menciptakan Batu Kawat Untuk Hiasan Eksterior 
 Penggunaan Payung Untuk Hiasan Interior dan Makna Filsafatnya Penggunaan Atap Lengkung pada Bangunan Rumah 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2014 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker