Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
 
 
   
Loading
 
 

Arsitektur Tradisional Bali, Bagian 1

Arsitektur Tradisional Bali, Bagian 1

Kali ini kami akan membahas ajaran agama Hindu yang mengatur berbagai aspek dalam arsitektur tradisional Bali. Aturan mendasar semacam ini telah dicatat di daun Palmyra (lontar) naskah yang disebut Hasta Kosala, Hasta Kosali dan Hasta Bumi, biasanya disimpan di rumah-rumah arsitek tradisional atau Undagi. Aturan – aturan tersebut digunakan dalam proses pembangunan rumah tradisional di Bali. Berikut akan menjelaskan peraturan dalam arsitektur tradisional Bali, dan membandingkannya dengan realita pembangunan sebuah proyek di Bali.

Aturan dan Prinsip Arsitektur Tradisional Bali

1.Kosmologi Dalam Arsitektur Tradisional Bali

Sebelum kita membahas aturan agama dalam Arsitektur Tradisional Bali , kita harus melirik urutan kosmologis yang mendasari aturan tersebut. Salah satu prinsip kosmos Bali adalah gunung (kaja)  / arah laut (kelod). Penggunaan arah mata angin sebagai posisi sebuah bangunan sudah sering digunakan sebagai patokan dalam pembangunan sebuah rumah, begitu juga orientasi geografis sangat dipercaya memiliki nilai religius dan sangat dipercaya memiliki nilai polusi yang berbeda berdasarkan posisi geografisnya (utara – selatan atau hulu – teben). Sehingga posisi hulu teben dijadikan sebagai patokan arah suci atau tidaknya suatu tempat.

Orientasi kaja / kelod merupakan penerapan dari ajaran Agama Hindu yang disebut Tri Hita Karana, yang diterima secara luas di Bali. Tri Hita Karana mengatakan bahwa dunia ini terdiri dari tiga bagian, yaitu dunia atas untuk Dewa-Dewa (Swah Loka), dunia tengah (Bwah Loka) bagi manusia, dan dunia yang lebih rendah untuk para Bhuta Kala dan hewan (Bhur Loka). Dengan demikian, pembagian dunia secara vertikal dan horizontal dikombinasikan dengan orientasi lingkungan ke gunung atau ke laut menjadi tiga bagian yang memiliki derajat yang berbeda dari kemurnian agama.

Prinsip pembagian Tri Hita Karana menembus penataan bangunan-bangunan di desa-desa dan pekarangan rumah. Bangunan yang memiliki karakter dan fungsi suci harus ditempatkan di daerah kaja atau gunung, sementara hal-hal kotor ditempatkan di daerah selatan atau arah laut. Pura sebagai tempat suci pada setiap kawasan atau desa menempati arah gunung, sementara kuburan ditempatkan di arah laut desa. Demikian juga, Sanggah atau Merajan sebagai tempat suci setiap rumah diposisikan di arah hulu / kaja kangin, sementara dapur, kandang babi di sisi teben atau laut dari pekarangan rumah. Dalam kedua kasus, bidang tengah adalah tempat bagi manusia, yaitu daerah perumahan para warga desa dalam kasus sebuah desa, dan halaman untuk kegiatan keluarga sehari-hari dalam kasus pekarangan rumah. Meskipun disposisi pasti dari komponen bangunan sebenarnya tidak dapat diturunkan dari prinsip ini saja, setidaknya di Bali memiliki perhatian pada hubungan antara prinsip pembagian Tri Hita Karana dalam rencana pembangunan desa dan rumah.

Prinsip yang sama juga diterapkan pada tubuh manusia, yang dianggap sebagai mikro kosmos (Bhuana alit), dibandingkan dengan alam semesta sebagai makro kosmos (Bhuana Agung).  Salah satu ajaran yang paling penting dari agama Hindu Bali menekankan harmoni antara mikro dan makro kosmos. Tubuh manusia terbagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala (Utama Angga), tubuh (madya angga) dan kaki (Nista Angga). Dengan cara yang sama, sebuah bangunan tradisional Bali seperti paviliun memiliki komposisi tiga bagian, yaitu atap sebagai kepala, pilar sebagai tubuh dan lantai dasar sebagai kaki. Sebuah altar kecil (pelangkiran) untuk menempatkan persembahan, di tempat setinggi balok paviliun, menunjukkan bahwa atap milik dunia atas. Manusia duduk, dan sering tidur, di tempat tidur atau dipan yang sering menempel pada pilar bangunan. Penempatan untuk setan dan roh-roh jahat diletakkan tepat di bawah langkah-langkah yang melekat pada lantai. Sebuah bangunan tradisional adalah penengah antara makro dan mikro kosmos, dan karenanya harus direncanakan dan dibangun dengan hati-hati, sehingga harmoni dunia akan selalu bersinar.

 
Artikel Lainnya :
 Teknik Memilih Granit Yang Baik Menggunakan Exhaust Fan Sebagai Alternatif Ventilasi Rumah 
 Bagian Rumah Yang Perlu Mendapat Perhatian Kesehatan Gapura Bali Dengan Paduan Warna yang Serasi 
 Tower Klasik Pada Rumah Modern Arti Garis Sempadan Bangunan dan Fungsinya 
 Membuat Desain Lampu Tempel yang Unik Green Arsitektur dengan Rumah Bambu 
 Bagaimana Cara Membuat Rumah Adem Tanpa Boros Listrik Secret Garden di Taman Tropis Museum Lukisan Sidik Jari 
 Gapura Tradisional Minang di Bukit Tinggi Desain Geraja yang Megah di kota Medan Sumatera Utara 
 Tips Membuat dan Memasang Atap Rumput Ilalang Halte Bus Terunik di Dunia 
 Persamaan dan Perbedaan Desain Plafon Rumah Eropa dan Amerika Jenis-jenis Saklar Untuk Menghidupkan Listrik 
 Sentuhan Seni Interior Etnik Bali Membuat Ruang Tamu Berkonsep Outdoor 
 Membongkar Lantai Keramik Bangunan Museum Paling Istimewa 
 
Semua Artikel
 
 
Find us on Facebook Rss Feed Follow us on Twitter
Copyright © 2011 - 2015 Image Bali Arsitek dan Kontraktor
Powered by Image Bali International
Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
eXTReMe Tracker